Malam sudah cukup larut, jam dinding dengan warna merah yang tersandar pada punggung-punggung koleksi bukuku itu sudah menunjukkan kalau malam ini tepat pada pukul 11 malam.
Televisiku masih menyala, tidak kutonton, mungkin malah layar flatnya yang menontonku sibuk dengan netbook. Sebenarnya aku ingin mematikannya saja, membuatnya istirahat karena sejak sore tadi aku sudah membiarkannya menyala dan mengacuhkannya.
Bukan karena aku tak tertarik dengan acara yang televisi-televisi siarkan, aku hanya butuh suara-suara agar mereka mengalihkan pikiranku dari melanglangbuana lebih jauh.
Malam yang sepi kadang membuatku takut. Bukan takut karena cerita-cerita orang, kalau pada malah hari mereka yang pada siang hari tertidur nyenyak akan bangun dan memulai aktifitasnya. Memperhatikan kita yang mulai berganti aktifitas dengan mereka, tertidur atau bahkan bermimpi. Mungkin saja mereka memasuki alam mimpi kita, membuat kita takut dan pada akhirnya kita pun terbangun dalam keadaan terkejut luar biasa. Menangis. Mengigau. Atau bahkan terjatuh dari tempat tidur.
Di luar kamar kosku yang berukuran 2,5×3 m ini, ada kamar-kamar lain yang ditempati oleh teman-teman kosku. Saat aku keluar sekitar lima menit yang lalu untuk pergi ke kamar mandi, pintu-pintu kamar mereka sudah tertutup rapat dan beberapa dari kamar-kamar itu gelap.
Sepi. Tidak ada suara selain suara televisi, detak jarum jam dindingku dan beberapa jengkerik yang saling berbicara di luar sana. Entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin membicarakan malam yang mulai merangkak semakin larut menuju dini hari.
Sepertinya aku perlu untuk tidur